Khawatir Anak Kurang Pergaulan

generasimaju.com – Ibu Mayke di tempat. Putri tunggal saya berusia 7 tahun. Dari kecil jarang bermain di luar rumah. Padahal anak tetangga banyak yang sebaya. Di rumah cuma berdua dengan Si Mbak yang sudah belasan tahun ikut kami. Saya dan suami bekerja. Masalahnya, suami saya memang kurang suka anak main ke luar rumah. Tetangga pun hanya boleh datang sekali-sekali. Sementara saya menginginkan si anak banyak bergaul.

Prinsip saya, bermain ke luar tak apa asal diawasi. Si Mbak juga kasihan, katanya Si Non di rumah sendirian saja. Dengan adanya kasus pelecehan dan kejahatan pada anak akhir-akhir ini, suami jadi tambah protektif. Dia yang paling aktif mengecek ke rumah tentang keadaan anak saya. Bu, bagaimana ya meyakinkan suami bahwa anak juga butuh bergaul. Kasihan juga dia sendirian di rumah meskipun di rumah banyak buku. Saya tidak mau anak saya nanti menjadi kuper atau kurang sosialisasi. Mohon jawaban Ibu Mayke. Terima kasih. Amelia – Jakarta.

Tampaknya sulit untuk meyakinkan suami, entah bagaimana pengalaman masa lalunya sehingga suami mempunyai kecemasan yang tinggi. Apakah dalam pekerjaan dan relasi dengan rekan kerja pun ia mengalami masalah? Coba bujuk suami untuk konsultasi ke psikolog Klinis Dewasa untuk dibantu mengatasi rasa cemas yang berlebihan. Saya menduga suami termasuk orang yang kurang suka bergaul sehingga ia membatasi anaknya bersosialisasi.

Selain membujuk suami dengan mengemukakan alasan bahwa kecemasan yang tinggi akan mengganggu fungsi hidupnya sehari-hari, Anda pun dapat menekankan bahwa jangan sampai anak menjadi korban perlakuan ayah yang membatasi pergaulan anak. Sementara ini agar si kecil terlatih menjalin pertemanan, manfaatkan waktu di sekolah, misalnya datang lebih pagi atau pulang lebih siang sehingga dia bisa bermain dulu dengan teman-temannya.

Apakah saat ini anak mudah berteman atau sulit menyesuaikan diri dengan situasi baru? Sayangnya Anda tidak mengemukakan bagaimana keadaan anak saat ini. Selain itu, pertemanan dalam kegiatan ekstra kurikuler yang dilakukan secara berkelompok, bisa dimanfaatkan. Anda bisa mengamati perkembangan anak setelah dia diberikan kesempatan bergaul dengan teman sebayanya, kalau tidak ada kemajuan, boleh saja konsultasikan pada psikolog klinis anak.

Add a Comment